19 Jul 2012
saatnya
tenggelam dalam kelakar yang terdengar menggelikan
bagi mereka
dia tersembilu dalam senyumnya
sekedar membenamkan hasratnya
untuk berteriak
namun dia lumpuh dalam kelelahannya
dia hujam tubuhnya dengan pengertian, pemahaman
tak perlulah menurutnya melengkingkan suara
agar mereka berhenti
sedikit membungkam mulut mereka
tapi tidakkah dia tahu
dia telah terlihat terhuyung
melengkung tubuhnya dengan punuk beban di bahunya
jika dia tak kuasa mengurai luka dengan kata
layak dia menjauh dan meloncat tinggi-tinggi
mengurai semangatnya yang kian redup
sebelum akhirnya benar-benar padam
tak selayaknya dia dianggap benalu
karena selama ini dia perambah hutan belantara
mengerat benalu dengan tangan kecilnya
benarkan dia untuk beristirahat sejenak
karena dia telah lama tidak mendongakkan kepalanya
untuk sekedar menguraikan sinar matahari di wajahnya
biarkan wajahnya yang mulai memucat kembali bersemu merah
...
jangan membuat bejana kaca sebagai penjara bagi dirimu sendiri
sementara kau tersayat di dalamnya melihat lalu lalang manusia di luar sana
keluarlahh!
...
21 Mar 2012
tentangmu darinya
apalagi menarikmu dalam pusaran yang sama
namun aku selalu tertarik
untuk mendengar kabar burungmu
sama seperti aku tertarik pada satu pusaran
yang menarikku pada titik yang tak pernah terselesaikan
baiklah
semakin menambah khasanahku tentangmu
yang merasa tidak bersalah telah menyulut letupan
dan akhirnya merasa tak perlu bertanggung jawab
menepikan diri dengan berkasak kusuk sebagai korban
menjelmakan diri yang berhak menghujat
baiklah
aku tetap disini
dengan senyuman membaca semuanya
deretan negatif film tentang potret hidupmu
yang tak ubahnya rentetan semua yang telah kau sumpah serapahkan
baiklah
itupun tak pernah membuat tersadar
entah sampai sembilu ke berapa
dan aku berhak menunggunya kan??
#jika kau beralibi Tuhan membalas setiap kejahatan yang kau alami, mungkin kau lupa bahwa Tuhan tak pernah tertidur, pun saat ular memaksa berganti kulit#
rabun
yang tertutup yang dikorek
di pelupuk mata tertutupi
di belakangnya yang tersandari
begitu naifnya
mencari yang tak terlihat
membuang yang tersaji
dengan sadarnya
8 Apr 2011
7th days, after he has gone...
Tak ada yang berubah tentang detik yang bergulir
Seperti halnya senyumanmu yang tak pernah lepas
Yang berubah adalah batas
Batas antara dunia abadimu dan kami
Yang membuat kami harus mengais kekuatan untuk mengingatmu
Semua hal yang manis darimu karena kau memang tidak pernah menyisakan kepahitan bagi kami
Kecuali saat kami harus termangu melihat nisanmu
Terimakasih atas semua waktu yang takkan terganti
Sekejab aku mengenalmu
Sekejab kita dalam rona persahabatan
Sekejab kau kerjapkan rasa persaudaraan
Sekejab pula akhirnya kau meninggalkan kesementaraan ini
Namun tak bisa dalam sekejab ini aku menguarkan ingatan tentangmu menjadi binasa di benakku, apalagi melupakannya
Tak akan pernah
Takkan habis kata untuk mengenangmu
Namun habis kata untuk melepasmu
Bye Udhong
...
dedicated for my beloved 'bro, my b'friend,
Rahmatanto Yudho Nugroho (alm)
...
14 Mar 2010
ternyata
apalagi menyentuh kulitmu yang (katanya) putih berbercak coklat itu
hanya melihat dari jauh
hanya mendengar
begitu sempurna
begitu lengkap
begitu tinggi
rasanya aku tak bisa menyamai
hampir...
ternyata
tak lebih sedikit pun kecuali kelemahanmu
tak se mencengangkannya dirimu pada nyatanya
aku tahu apa yang ada di balik kata-katamu yang menggebu tentang hidupmu
ternyata
kau rapuh...
12 Apr 2009
Destiny
sembari menendangi kerikil kecil yang terserak
senyum tak lupa menggantung serasa ada yang lepas
bebas dari segala pikiran yang menggelantungi
yang terpikir hanya berjalan ke depan
dengan tangan melambai bebas
penat, kembali ke dalam petak kamar
merebahkan diri di hamparan busa yang empuk
sembari meraih edisi bulanan yang selalu tak pernah absen di comot dari loper
tersenyum sambil meraih remote
terputarlah lagu jazz lirih2
kembali pulas dalam hitungan menit
kembali seorang diri
terbangun,
hasrat untuk sekedar melepas waktu yang harus terbuang kembali
namun nada panggil di telepon genggam tak jua berganti suara yang di maksud
beberapa kali
huffhh, saat ingin ramai, kembali ia kebingungan dalam sepi
sudah capai ia lampiaskan sepi diatas keyboard mencari teman maya
melenggang sendirian menghabiskan lembar rupiah di dompet sudah puluhan kali ia lakukan
yang ia dapat hanya kresek berisi barang-barang belacu
terpekur ia
tak ada beban memang
semua untuk hidupnya
semua ada seperti tangan doraemon yang merogoh saku
menyulap semua menjadi miliknya
dia bisa untuk dirinya sendiri
tapi haruskah selalu begini
titik nyaman yang tak ubahnya titik nol
ia ingat selentingan suara dan kata-kata di selembar kertas di pojokan musholla
bukankah hidup itu untuk berbagi
bukankah hidup itu untuk memberi
jika yang terbenak hanya dirinya sendiri
berarti ia akan tetap tak beranjak di tempat
ia terbangun,
mimpi menjelang pagi membuatnya sadar
inilah adanya sekarang
ia tersenyum ketika sadar ia memang orang terpilih
untuk keadaannya dan seharusnya
agar ia tidak menjadi sia sia saja
dan tak semuanya bisa...
Si Pirang
seolah membuka lembaran luka itu
sosok itu yang sontak membuat hidupku pilu
kibasan rambut pirang jadi-jadian itu
serasa sembilu
membuat kata-kata manis menjadi hujaman belati
kau datang begitu tiba-tiba
sama cepatnya dengan kau menjelma menjadi ancaman
kau mengurai rajutanku tentang masa depan
yang telah aku mimpikan setiap malamnya
sekarang kau tersenyum sembari menginjakku
seakan kau berkata akulah pemenangnya
dan aku bukan siapa-siapa
lelah sudah untuk berteriak
tak sepantasnya kau begitu cepat tiba
merangsek ke dalam ruang yang aku anggap itu milikku
seandainya kau tahu
betapa berartinya ruang itu untukku
betapa menyenangkannya kehidupanmu
setelah mengambilnya tiba-tiba dariku
seandainya kau tahu...
namun kau tak tahu apa-apa awalnya
yang perlu kamu tahu
kamu adalah tamu tak terundang
"dedicated for my best friend and her love story, i'm sure that everything gonna be fine"
16 Mar 2009
tiba - tiba
Ketika tiba-tiba muncul siluet wajah itu
Yang masih jelas sekian tahun yang lalu
Ingatan bergerak mundur
Tentang sesuatu di belakang semua yang telah berubah
Tanpa ada yang perlu disesali
Walau ada yang terlewatkan
Seperti kata yang tak sempat terkatakan
Tak ubahnya ombak yang tak pernah bisa menggenangi gunung pasir yang
berkilau di tepian
Dia memang tak akan pernah tahu
Karena tak mungkin bisa menggantikan apa yang dia genggam sekarang
Seperti ada yang berdesir di dalam saat menatap senyum itu
Tidak ada yang berubah dan tersesalkan
Yang berjalan hanyalah waktu
Dan yang berubah itu adalah hidup
Lantas untuk apa meratap
Jika senyum dapat merangkum semuanya dengan indah?
...
10 Feb 2009
Tanya Pada Sahabat...
Namun seperti sudah lampau mengingat saa itu
Masih ingatkah dirimu sahabat?
Ketika semua tercurah tanpa titik tanpa koma
Hanya terjeda oleh isak kecil
Seakan kisahnya ingin membanjiri semua jiwa
Namun tanpa kekuatan untuk memadamkan api yang tak kunjung padam itu
Karena sosok itu…
Merah itu terlanjur menyala
Tidakkah kau rasakan itu sahabat
Tak apa…
Sedianya telingamu sudah didera luapan sesuatu yang terlanjur membuncah
Mengalir, mengalir, mengalir…
Kemudian lambat laun menyurut
Seperti tertarik kembali ke hulu
Tempat semua berawal tanpa sengaja
Tidakkah kau tahu sahabat?
Dia sekarang selalu terbangun di tengah malam
Tergugah mimpi yang kembali hadir
Tentang sosok yang kembali mengurai bara
Yang menghangat ketika hujan datang
Namun betapa melepuhnya hatinya ketika terik tiba
Tidakkah kau tahu sahabat?
Walau bulir airmata mengalir dari sudut hatinya
Dia tetap mendekap erat kotak kaca itu
Dia tak mau cinta di dalamnya buram
Walau ada yang membuncah
Yang tak tahu akan bermuara dimana
Dia hanya bisa menjadi danau sekuat yang ia bisa
Dengan segala daya yang ia punya…
…
3 Feb 2009
Surat Darinya...
Bukan tentang sesuatu yang berwujud, namun itu nyata
Laiknya sebuah kayu yang mengganjal sebuah pintu…
Membuatnya tak bisa menutup pintu itu rapat-rapat
Sedikit menganga dan menyisakan kegundahan baginya
Dia bukan orang yang suka mencari api bahkan menyulut api
Dia kiranya orang yang selalu ingin menyelesaikan sesuatu dari awal sampai
akhir
Dia orang yang ingin selalu meruntutkan segala kejadian pada jalan yang lurus
Dia selalu menggundah ketika tidak mendapatkan jawaban dari wajah yang tepat
Tak bisa dia mengira-ngira,
Walaupun jika suatu saat sudah tidak berguna
Dinding hatinya telah kamu hancurkan
Hingga membuatnya tak bisa menerjemahkan isi hatinya sendiri
Seperti menggulai kambing dalam kuali, bercampur aduk rasa muak, kasihan,
marah
Namun perlu kamu tahu, tidak ada rasa benci yang tersisa
Dia sudah mengenali berbagai macam tabiat dan wajah
Namun dia menjadi kesusahan mengenalmu
Seperti harus menebak orang yang memunggunginya, apakah punya mata
Apalagi harus menebak apakah kamu punya hati dan akal sehat
Karena memang kamu tidak pernah memberi kesempatan itu
Keegoisanmu membuatnya hanya bisa mereka-reka dalam kegundahan
Menurutnya, kamu tak ubahnya orang yang sakit tenggorokan yang tak bisa
bersuara lantang
Kamu hanya tak ubahnya kucing pencuri ikan, yang hanya berani
mengendap-endap di pojok dapur yang gelap
Yang ketika tertangkap basah hanya bisa mengeong-ngeong mencari belas
kasihan dan pembenaran atas apa yang kamu lakukan
Jika ada lakunya yang menyakitkanmu, sepertinya setimpal dengan apa yang
telah kamu lakukan
Kamu memaksanya mengintip ke pintu itu lagi ketika tanganmu menaruh kayu
untuk mengganjal pintu
Padahal kamu tahu, dia sudah memohon ijin untuk menutupnya
Semua itu muaranya darimu, dari lubuk hatimu untuk menghentikan semuanya
Jika dirimu selesai, dia juga akan selesai
Dia sebenarnya ingin menyudahi, namun kau masih menggelitikinya sampai
saat itu pun
Tak ada harapan dan yang ia harapkan darimu lagi tentang sesuatu yang
lebih baik
Hanya ada yang terbersit darinya
Ia ingin menatapmu, untuk membuktikan apakah dirimu bisa bicara lantang
atas kekhilafanmu sendiri
Atau memang dirimu memang batu…
Tak ada yang memaksamu, sekalipun dirinya
Diamlah jika ingin
Agar orang melihat bahwa dirimu sajalah yang terluka
Agar orang melihat dirimu hanyalah objek
Agar semua tetap tertutup rapat, rahasia tentang seorang pelaku yang
meratap- ratap…
Diamlah jika kamu seorang pecundang…
...
11 Sep 2008
membayangi
ku mendekat kau beranjak
tak pernah ku tahu pasti maumu
seperti berselimut kabut, kabut yang menyeruak di ngarai yang dalam
tentang sebuah asa..
ngarai itu pernah menjerumuskan aku
pada suatu masa yang tak terduga
datang dan pergi tanpa jejak yang jelas
hanya membekas kabut
dan ketika sinar itu bersemburat di ufuk timur
aku berjalan membelakanginya mengikuti alur hidup
dari timur ke barat
begitu semestinya dan tak akan berhenti
seperti juga bayangan di belakangku
ntah di pagi keberapa
atau hari apa
di pekan yang kesekian
bayangan itu berganti...
8 Sep 2008
lawas
menjadi angin pun
aku tak akan bisa menggapaimu
karena dia tetap bintang
namun juga
bintang adalah matahari bagi seseorang yang lain
yang sangat mengaguminya
seperti juga...
aku pun bermatahari
seorang yang selalu ku kagumi dan selalu
di dekatku, damai datang, hangat...
tetaplah bintang
tetaplah matahari
karena aku sangat mengagumi
apa adanya
matahariku, tak ada jeda untuk menjadikannya apapun, tetaplah bersinar menerangi aku"
unidentified
namun sisi lain dari diriku berusaha menampakkannya
seakan mengerti memang belum sempurna usai
tanda titik berusaha aku torehkan di papan cerita itu
semata-mata...
karena lelahku
karena tatapanku ke depan lebih berharga mungkin?
penat leher ini berpaling,
namun ada yang memanggilku untuk menoleh lagi
huffhh!
untuk mengumpatpun sudah kelu lidahku
hanya sisakan lelehan bulir air di sudut mata
tak perlu dan tak usah
itu yang seharusnya
namun itu tertolak oleh pergolakan diri
dan nampaknya tanganku perlu mengepal
merangsek ke depan
walaupun harus terakui
episode ini masih masuk ke tanda koma
titik akan muncul setelah ada episode lain yang termulai...
kutunggu itu
"ku hanya manusia biasa, namun ku punya mata hati, sejauh manapun kau bersembunyi melihatku, ku pasti melihatnya. oww... terkadang bilur itu muncul lagi, namun ntah ajaibnya aku kadang merindukannya... ketika perlu cat warna di lukisan hidup ini"