Tampilkan postingan dengan label open opinion. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label open opinion. Tampilkan semua postingan

20 Mar 2011

coming home

























seandainya ada yang lebih sederhana dari memaafkan
pasti itu adalah memohon maaf
begitu susahnya meruntuhkan ego kita untuk itu
karena merasa tak perlu peduli
seperti tak perlu peduli dengan apa yang telah kita rusak
...

6 Mar 2009

Karnaval Baliho

Baliho itu ada tulisan kecil di bagian bawahnya,

“nek gak seneng partaine, wis milih wong-e ae, insyaallah amanah “

terjemahan-e,
“ kalau tidak suka partainya, ya memilih orangnya saja, insyaallah amanah”


Ah, ini kampanye plus berkelalakar? Saya nggremeng dalam hati,

“ lho alah mbakyu, milih partaine ae wis bingung keakean, opomaneh milih wong e sing nyalon caleg sing akeh e sak ndayak kerat. Lha kok arep nyubles sampeyan sing ora kenal blas, lha kok NYIMUT… “

terjemahan-e,
“ lho alah mbak, memilih partainya aja sudah bingung karena kebanyakan, apalagi milih orang yang menyalonkan diri jadi caleg yang banyaknya aujubile. Lha kok mau nyoblos anda yang tidak kenal sama sekali, lha kok enak banget anda”


Itu salah satu baliho dari sekian baliho yang berjajar sambung menyambung di pinggir jalan. Dengan slogan bermacam- macam, dan beberapa terkesan menggelikan selain yang saya tulis di atas. Ck..ck..ck.. kaya-kaya mereka itu, membayar perijinan ber umbul-umbul atau pamphlet bahkan baliho aja berapa? Malah ada yang menggunakan space iklan yang permanen seperti iklan rokok yang segedhe gaban dengan iklan “ Jauhi Mo Limo “ . Kalau orang madura jadi “ Pajeu bi’ Mak Lemak “…


Sebagai orang awam, yang terlintas di otak saya hanya beberapa hal …

Caleg dengan slogan yang saya sebut di atas menunjukkan kurang selarasnya korelasi partai dengan orang di dalamnya. Seharusnya jika kita memilih partai yang sesuai dengan aspirasi kita, maka akan terwakili oleh orang-orang di dalamnya. Memilih menurutnya adalah senang tidak senang bukan sesuai atau tidak dengan aspirasi dan ideology kita. Lantas, orang seperti Bu Fenny Ekawati, SP itukah yang akan kita pilih? Kalau saya, tentu tidak, hehehe…


Pembelajaran demokrasi di negara ini belum tuntas, tapi rakyat sudah di cekoki duluan. Analognya, rakyat kita itu makannya masih tiwul tapi di paksa makan lasagne, escargot, hotdog. Masih belajar memilih partai yang puluhan banyak, sekarang sudah di tambah memilih orang-orang terkenal musiman begitu. Peralihan atau pembelajaran dari satu bab ke bab yang lain tidak diberi jembatan yang kokoh, jadi kalaupun pemilu sukses, bisa jadi hasilnya adalah kumpulan suara-suara “ mengambang”. Daripada golput gak enak, milih aja. Mau milih siapa? Tidak kenal semua. Akhirnya kebanyakan orang ambil jalan pintas nyoblos orang yang bolak-balik balihonya terlihat di ujung kampong, atau tetangganya sendiri, hitung-hitung solidaritas. Apalagi orang –orang buta huruf dan berpendidikan rendah, mereka pasti menjadi makanan empuk yang potensial menjadi suara mengambang. Sampai di tempat pemilihan suara, mereka akan bingung dengan banyaknya partai, apalagi banyak wajah pula, akhirnya kemungkinan besar mereka akan mencoblos orang yang wajahnya pernah mereka lihat atau yang di suruh kyai mereka.


Jika ini pembelajaran, yang model bagaimana. Pembelajaran “ choose from the cover? Mengerti luarnya saja dari tampang yang tiba-tiba ngoyo untuk ber-fotogenik, hanya dengan satu slogan saja, sudah bisa sebagai pertimbangan untuk memilih caleg? Apa pepatah “ don’t judge from the cover” harus di abaikan sementara?


Tapi bagaimanapun sebagai orang yang berpendidikan, saya harus menyikapi dengan positif setiap perubahan yang ada. Bagaimanapun perubahan itulah yang abadi. Masalahnya tidak ada media yang akurat untuk melakukan fit and proper test dari sudut pandang pemilih. Saya ingin melihat kapasitas mereka paling tidak pemikiran mereka yang bisa dituangkan dalam tulisan, minimal dalam blog, tapi mungkin hanya ada satu dua dari ratusan caleg itu. Hmmh… jadi gimana dong? Kalau saya sampai hari h-nya belum bisa menentukan pilihan, mencoblos partainya saja kah? Berarti saya harus merelakan orang-orang yang aji mumpung bisa jadi caleg dong. Walau melelahkan, semoga ada jalan untuk mempelajari orang-orang itu, karena saya masih peduli dengan negara ini. Mari kita mulai dari diri sendiri untuk melakukan perubahan kecil dahulu.


Yuuk… mari.


24 Feb 2009

Raja Jalanan

Pagi-pagi "mruput" selalu harus menyeberang jalan dua kali untuk ke
kantor, sekedar memperpendek rute hubbie kembali ke kantornya… Tadi juga
seperti biasanya, hanya saat menyeberang di jalur pertama, saya
sayup-sayup mendengar bunyi " nguing-nguing" dari kejauhan mendekat. Saya
kira suara ambulans, makanya saya segera berlari ke pinggir, takut semua
kendaraan juga buru-buru. Ee.. setelah saya toleh ternyata serombongan
polisi militer dengan MoGe-nya diikuti mobil warna hijau tua ( tahu khan
ijo tua identic dengan apa?) kemudian menyusul di belakangnya, beberapa
mobil plat merah, yang kata jawanya " yo iku lakon-e"…

Mungkin tidak ada koordinasi dengan polisi yang sedang "tenguk-tenguk" di
perempatan jalan yang mulai memadat, akhirnya, abrakadabraa!! Perempatan
jalan itu ramai dengan bunyi klakson. Traffic light tidak berlaku, semua
memaksa mau maju. Termasuk iring-iringan yang seharusnya berhenti, tapi
karena mulai dari sononya, " titah paduko" harus didahulukan. Malah
polisi militernya sempat " ngoprak-ngoprak" kendaraan yang terlanjur di
lajur kanan-nya dan mau lurus. Kasihan mobil-mobil itu, jadi bingung, maju
di bentak, ikut belok kanan ngapain juga, diem pun malah dipelototin.
Hihihi… waktu itu saya Cuma bisa tersenyum kecut dan bicara dalam hati (
seperti istilah orang-orang juga),"sing duwe dalan liwat.. ". Gimana para
pejabat dan para wakil rakyat mengerti dan ikut merasakan masalah yang
ada, lha wong macet aja gak mau, kelamaan di jalan raya gak mau, padahal
itu makanan rakyat sehari-hari.

Semoga saja ada alasan yang bertanggung jawab atas "kebiasaan" menguasai
jalanan " kalau ada orang sok penting itu lewat, bukan sekedar jawaban
tidak berdasar seperti memang harus begitu atau mereka kan orang penting,
bla.. bla.. bla.. Karena akan menarik orang lain jadi sok penting. Polisi
habis jalan-jalan pakai mobil patroli aja pakai "nguing- nguing" membelah
macet. Kalau untuk alasan keamanan presiden lewat sih "who knows", tapi
kalau cuma bupati, anggota DPR, atau petinggi TNI, ngapain juga? Apa ada
yang nafsu membunuh mereka? Hehehe, atau orang sok penting itu sudah
ketularan virus, virus Ge-eR…


Melihat polah polisi militer atau polisi patroli yang "petantang
petenteng" di jalanan begitu saya jadi inget lagunya Dewiq feat Indra
Bekti


"…
eh..eh..eh..
kok gitu sih
lho kok marah
jangan gitu sayang,
jangan gitu sayang
…"


Gunakan "sempritan" dan pentungan-mu dengan baik dan benar seperti kau
menyuruh kami menggunakan 'savety belt" dengan baik dan benar… piss!!!

kamus:
mruput = pagi sekali
yo iku lakone = ya itu aktor utamanya
tenguk-tenguk = nongkrong, tolah toleh
sing duwe dalan liwat = yang punya jalan lewat
petantang-petenteng = mentang-mentang
sempritan = peluit
ngoprak-ngoprak = nyuruh-nyuruh

19 Feb 2009

ANGKOT METAL!

Dibilang seru ya seru, dibilang nyebelin ya nyebelin, dibilang serem,
emang rada…
Awalnya karena harus pulang malem. Rutinitas tahunan, deadline evaluasi kinerja yang sudah di pelupuk mata membuat saya harus lembur setelah jam kerja. Sebab kedua, karena ga mau ngerepoti orang rumah, saya putusin naek angkot saja pulangnya, walau harus oper dua kali, dan perjalanan yang panjang kadang bikin pusing (kalau macet atau siang hari).
Sebelum cabut dari kantor, saya sempat ngelirik ke dinding, jarum jam sudah bergeser ke arah jam delapan seperempat. Haah.. lumayan belum jam sembilan (pastinya ya). Cepat – cepat jalan ke depan kantor dengan niat mau nyegat angkot, ternyata…

" Mbak..mbak.. terminal, hayo wess…", teriak kenek angkot. Saya agak bingung sedikit heran. Waktu itu lampu merah, angkot di tengah jalan. Di suruh naek aja sama si kenek, How come?? Disuruh nyebrang cepat-cepat di tengah kondisi kendaraan jalan terus yang mau belok ke kiri. Bisa-bisa bukannya naek, tapi ketabrak. Tapi celingukan ga ada angkot lagi, ya udah deh ngalah. Sedikit horor naek angkot di tengah jalan. Mana angkotnya pake
acara mundur dikit, bikin kendaraan dibelakangnya bingung. Lampu hijau bukannya maju malah mundur. Dasar angkot…
Lega juga sudah di angkot. Tapi rada ngeri melihat sopir angkot plus keneknya bergaya nge-punk. Ndilalah… sampai di depan supermarket, mereka turun, oper sopir plus parkir lama. Halah.. halah.. semakin lelet nih. Apalagi setelah itu penumpang yang satu-satunya teman seperjalanan akhirnya turun. Yaa.. sendirian deh.

Seperti biasa, jalanan sepi, penumpang tinggal sebiji, akhirnya jadi angkot race, ngebut! Begitu dekat dengan perlintasan kereta, saya heran, lho..lho.. sudah kelihatan dari jauh palang keretanya turun kok gak nge-rem – nge-rem ya? Kemudian… Chiiitttt!!! Gedubrakks!! Kursi cadangan dari belakang kelempar ke depan. Dan Gabruggh!! Saya pun kebanting ke besi belakang kursi sopir. Plus kaget gak ketulungan. Ternyata sopirnya kaget juga. Weleh… weleh… ntah karena nekat atau sudah tidak bisa dikendalikan, angkotnya
nyelip ke kanan maksa masuk perlintasan. Hwaaaa!! Saya langsung celingukan, seumpamanya kereta sudah dekat, saya sudah siap untuk meloncat. Sopirnya juga diem aja, tidak bilang maaf. Dasar ANGKOT METAL!

Turun di "illegal terminal" (hehehe…) lanjut ke angkot kedua yang bias turun dekat rumah. Alhamdulillah dapet tempat di depan, tapi sendirian lagi. Coba ngobrol sama supirnya, " kalau malem gini sepi ya pak?" Lantas ditimpali, " Iya mbak, memang sudah hamper jam sembilan". Hihihi… pertanyaan saya bodoh tidak ya?

Perjalanan saya dari ujung ke ujung. Jadi saya pastikan dulu, sampai tujuan terakhir tidak. Sopirnya "he-eh" aja. Tapi mungkin karena selama sepanjang jalan tidak ada penumpang lain. Akhirnya… " Mbak ikut itu saja ya.." , kata pak sopir seperti gak punya dosa (hehehe…) sambil nunjukin angkot yang ga ada penumpang di depannya. Jedhiankk!! Tanpa banyak cincong saya langsung turun. Dipaksa ikut angkot yang di depan, saya senyum aja sambil bilang, " n-g-g-a-k p-a-k". Dan langsung telpon hubbie minta jemput (akhirnya), lagian tinggal sekian kilometer dari rumah. Untung juga, ga diturunin di tempat sepi, masih ditemenin tukang bakso ma pangsit. Duasarr angkot…

Begitu hubbie datang, akhirnya saya di ledekin, " Dibilangin di jemput aja, kok gak mau, hehehe…". Huffhhh… gapapa diledekin daripada harus naek angkot "bison" gantinya angkot ijo kinclong ituhh.. Stt… walau cuma kabar burung dan gossip, saya jadi parno naek ngkot yang namanya "bison" ituhh. Mana yang katanya banyak copet, todong, bahkan pelecehan seksual, hiyyy, apalagi malam – malam. Dan lagi, saya memang rada antipati sama angkot satu ini, karena sering nyerobot penumpang angkot ijo kinclong (yang lebih mini ukurannya) juga sering ugal-ugalan. Saya sih Cuma sekali naek "bison" , sewaktu mau tracking ke gunung Welirang Arjuno. Selanjutnya? M – A – L – E – S.

Huffhh, lagi. Ternyata Malang sudah tidak senyaman dulu. Naek angkot sekitar jam sembilan malem aja, sudah bikin dag –dig-dug ajah. Tadi malam itu betul-betul malam yang aneh… Dipikir – pikir, paling aman dan nyaman ya jadi penumpangnya hubbie, whuehehe…

22 Jan 2009

cinta yang salah?

Hmm… pagi-pagi sudah dapat pinjeman majalah CHIC dari teman sebelah (meja). Setelah nge-buka 1 halaman, ada lembar forum chic-ers yang di upload dari milis-nya kali ya. Kali ini bahasannya sangat klise, Judulnya “ korban perselingkuhan”. Ealah… masih aja laku judul beginian, mungkin memang karena sebanding lurus dengan kenyataannya kali ya. Isinya kurang lebih (seperti biasanya, seorang wanita yang menjalin hubungan dengan seorang pria. Sudah berjalan beberapa waktu, dan terlanjur cinta, eee… ternyata akhirnya termehek-mehek karena ternyata si pria sudah punya pelabuhan (tetap) lainnya. Singkat kata si wanita merasa dikhianati, dibohongi, dan menjadi korban selingkuh.

Yaa, jujur saja saya membaca cerita ini bukannya merasa kasihan, malah lebh cenderung ingin berkomentar begini, “alah cerita klise”. Why? Hahaha, kalau ada yang tidak setuju dengan pendapat saya boleh protes kok.

Saya cenderung mengernyitkan dahi kalau melihat atau mendengar seorang cewek termehek-mehek karena merasa menjadi korban selingkuh. Lhahh.. kok baru ketahuan setelah jatuh cintrong setengah mati ya? Tapi saya juga gak bisa men-judge begitu saja, perlu ditelusuri latar belakangnya nih.

Kalau si cewek baru kenal sama si pria, dan ternyata si pria menyembunyikan kebulusannya, yaa normal saja jika akhirnya si cewek termehek-mehek sakit hati. Tapi gak perlu segitunya lah menangisi orang yang tidak penting berlama-lama. Cuma perlu belajar untuk mengenal orang lebih intens. Menggunakan intuisi untuk mengetahui orang itu punya niat dan personality yang baik atau tidak. Makanya juga, jangan cepat jatuh cinta. Pandangan pertama boleh saja, tapi penyelidikan perlu beberapa tahap untuk menetapkan bahwa target adalah sasaran jitu dan tepat,. Naa, pria seperti itu halal saja di hajar kalau ceweknya punya jurus karate.

Kalau kasusnya. Si cewek sudah tahu si cowok punya gandengan tapi tetap aja ngotot sampai akhirnya ya tetap ditinggalin sama si pria sih, saya akan bilang, “ yaa itu resikomu, suruh siapa main api?” atau, “ cucian deh lo.” Seharusnya kalau yang begini, dilarang termehek-mehek, malah seharusnya menjadi bentuk hubungan model baru, open relationship. Jadi memang ada komitmen untuk bersama, tapi juga babas untuk menjalin hubungann baru dengan yang lainnya, atas kesepakatan bersama lo ya. Dan ini cucoknya ya untuk yang belum nikah dong 

Yang saya tidak habis mengerti, terkadang orang cenderung menyalahkan cinta. Padahal cinta itu independent! Cinta ya cinta itu sendiri. Kecenderungannya terkadang orang merasa sakit hati karena cinta, cinta membuat sengsara, bahkan katanya cinta yang salah? Haa.??? Cinta itu bukan pelaku. Pelakunya ya orang itu sendiri. Ingat pepatah, cinta tak pernah salah. Memang orangnya yang salah.

Cinta itu manis jika dirasakan manis. Cinta itu menyenangkan jika kita nikmati dengan penuh bahagia. Dan cinta itu bisa pahit karena kita meminumnya lewat gelas bekas racun.cinta itu berdiri sendiri, tinggal kita aja akan memuatnya terasa sepert apa. Rasakan lewat hati dan pikirkan lewat logika.

Dan cinta itu gak melulu tentang hubungan dua orang cowok cewek. Cinta itu universal. Saya untuk ini, banyak belajar dan sharing dengan hubbie tentang bagaimana menyikapi cinta. Menurutnya, sehausnya kita belajar mencintai semua dalam kadar yang sama. Mau teman, musuh, istri, sahabat, seharusnya punya kadar yang sama untuk kita cintai. Saya awalnya (dulu sebelum nikah) kaget mendengar filsafahnya. Dalam pikiran saya waktu itu, berarti gak ada bedanya dong pacar, mantan pacar, atau yang naksir dia. “ Iya”, katanya yang bikin saya mendelik. Hahaha… dan kemudian saya merasa sempit sekali pemikiran saya tentang cinta setelah selanjutnya kita beradu pendapat. Ada benarnya juga falsafah cinta-nya hubbi (ciee.. kahlil gibran kali ya). Cinta pada siapapun memang seharusnya sama, termasuk pada musuhpun, dalam agama-pun kita juga diajari untuk menyayangi orang yang kita anggap musuh bukannya semakin memusuhinya. Dan kebanyakan, kita mencampuradukkan cinta dalam hubungan cewek cowok dengan sebuah komitmen. Komitmen itulah yang membedakan sebuah hubungan. Kalau cewek cowok itu saling cinta seharusnya sama dengan cinta kita dengan semua orang. Namun yang membedakan hubungan cowok cewek atau suami istri adalah adanya embel-embel passion, dan komitmen. Ya, khusus untuk sebuah hubungan lawan jenis yang mengarah pada hubungan yang serius harus ada tiga bahan pokok (sembako) ya itu tadi, cinta, nafsu, dan komitmen. harus mix bener. Hehehe, gila aja kalau kita punya nafsu ke adik atau kakak. Sekali lagi, itu bukan cinta yang salah, tapi orangnya yang kelainan, hihihi… Tapi, ada tapinya juga lho falsafahnya hubbie saya itu. sepertinya pemahaman itu harus di transfer pelan2 pada orang tertentu pula. Bukannya kenapa. Karena memang perlu pemahaman tingkat tinggi. Kalau digeneralisir ke semua orang, alih-alih ikut mengerti, malah berabe salah sangka. Dianggap lebih, dikira "cinta" berkomitmen, dikira naksir dan akhirnya malah merepotkan dan bikin capek orang-orang di dekat kita. Bagaimana pun perlu batasan, karena tidak semua orang punya pemahaman apalagi falsafah tentang cinta yang sama dengan kita.

So, jangan terlalu sering mengeluh dibutakan cinta lah, korban cinta yang salah lah, apalagi terluka oleh cinta lah. Yang lebih ironis mau mati karena cinta, bwahahaha, kacau benar orang begini mah… itu hanya keterbatasan kita mengelola diri kita sendiri. Yang betul dibutakan oleh perasaan bukan oleh cinta. Dan kurang mengasah logika, bukan mengasah kemampuan bercinta (eitss!! Jangan salah persepsi yang tidak-tidak, hihihi). Apalagi seorang wanita memang ada bakat alam untuk mendewakan perasaan. Kalau cowok patah hati paling sakitnya semalam doang, beda degan cewek yang bisa sebulan bahkan berbulan-bulan matanya sembab gara-gara nangis melulu. Yaa.. emang dari sononya sih, male from mars and female from venus. Tapi boleh juga dong warga venus migrasi atau mampir ke mars sebentar2 biar ketularan gak gembengan.

Stt… saya juga suka nangis kok, hihihi… ini kebetulan aja saya lai gak gembeng (= cengeng) soalnya mau bertransformasi jadi wonder woman. Masa wonderwoman nangisan?!!