10 Oktober 2009

Miss Tik-Tuk Panik

kasihan
gemes
maklum
...

tiga kata yang bisa mewakili perasaan saya satu hari kemarin. melihat anak baru "turun ke jalan". miss tik-tuk deh ku panggil. bagaimana melihat kehebohannya dalam sehari, mungkin serasa seabad bagi dia menunggu jam kerja habis. terlihat kepanikan dari " pipinya" yang semakin memerah-meradang, padahal blush on nya tipis. ya..ya..ya.. the first time on her job, launching pertama menggunakan user id-nya.

kasihan juga, melihat gabungan antara nervous, tuntutan kecepatan dan ketepatan menjadi wajah "mecucu". semakin sore semakin mix dengan kelelahan, semakin tidak tergambarkan ekspresi wajahnya. hahaha... tapi bagaimanapun show must go on. itulah kerja, apalagi dalam ejaan kasar-nya, memburuh pada orang. standar yang di pakai adalah standar yang disorongkan kepada kita. yang ada hanya deal or no deal ketika kita disodori lembar kontrak kerja. jika deal, mau tidak mau tetap akan bertemu dengan situasi yang dialami miss tik-tuk ini.

gemes... ketika miss tik-tuk tidak terima dengan keadaannya. karena lucu juga jika ditanya, "kenapa sebegitu hyper-nervous nya kamu?" malah dari penjelasannya adalah mengharuskan orang menerima semua keadaannya. aku memang suka nervous, etc. bukannya aku nervous, gimana ya cara mengatasinya? tersenyum di hati sejenak aku saat itu, ini nih, penyakit kebanyakan, menuntut orang untuk memahami terlalu banyak. tidak tahu kalau sebelahnya juga panik seharian karena seperti sendirian, padahal biasanya gaya kerjanya pemain ganda. dududuuu... belum lagi teringat, selama ini berarti melihat apaan ya, kok masih banyak yang terlewatkan oleh miss tik-tuk? atau mungkin semua ilmu classical, teori, sudah "buyar" ditelan kepanikan. mungkin juga...

maklum juga sih kalau ingat dia masih hangat-hangat tahi ayam, masih fresh graduate. tapi kalau melihat mereka membuat keributan karena protes gaji berkurang sih tidak maklum lagi. hayooo, kemarin kerjaannya cuma "tenguk-tenguk" tapi gaji berkurang sudah teriak-teriak. sekarang giliran kerja beneran, mengeluh-nya gak berhenti berhenti.

ku hanya tersenyum di kulum, ya begitulah cari uang miss tik-tuk...

04 Oktober 2009

Inspiring Day

tidak ada angin apalagi petir di musim "tidak jelas" ini membuatku mengobrak abrik halaman mayaku. need of new thing may be...

menghapus beberapa tulisan jadul, walau dengan sedikit perang bathin, karena sebagian adalah hasil bocoran hati, curahan rasa, tentang segala hal. namun akhir aku berhasil menyaringnya dari puluhan menjadi belasan judul.

ingin menutup tahun yang hampir usai dengan memulai menulis tentang semua hal dengan aliran kata yang mudah, dan mudah dimengerti anak kecil sekalipun.
itu saja...

12 April 2009

Destiny

berjalan di pinggiran jalan
sembari menendangi kerikil kecil yang terserak
senyum tak lupa menggantung serasa ada yang lepas
bebas dari segala pikiran yang menggelantungi
yang terpikir hanya berjalan ke depan
dengan tangan melambai bebas

penat, kembali ke dalam petak kamar
merebahkan diri di hamparan busa yang empuk
sembari meraih edisi bulanan yang selalu tak pernah absen di comot dari loper
tersenyum sambil meraih remote
terputarlah lagu jazz lirih2
kembali pulas dalam hitungan menit
kembali seorang diri

terbangun,
hasrat untuk sekedar melepas waktu yang harus terbuang kembali
namun nada panggil di telepon genggam tak jua berganti suara yang di maksud
beberapa kali
huffhh, saat ingin ramai, kembali ia kebingungan dalam sepi
sudah capai ia lampiaskan sepi diatas keyboard mencari teman maya
melenggang sendirian menghabiskan lembar rupiah di dompet sudah puluhan kali ia lakukan
yang ia dapat hanya kresek berisi barang-barang belacu

terpekur ia
tak ada beban memang
semua untuk hidupnya
semua ada seperti tangan doraemon yang merogoh saku
menyulap semua menjadi miliknya
dia bisa untuk dirinya sendiri
tapi haruskah selalu begini
titik nyaman yang tak ubahnya titik nol

ia ingat selentingan suara dan kata-kata di selembar kertas di pojokan musholla
bukankah hidup itu untuk berbagi
bukankah hidup itu untuk memberi
jika yang terbenak hanya dirinya sendiri
berarti ia akan tetap tak beranjak di tempat

ia terbangun,
mimpi menjelang pagi membuatnya sadar
inilah adanya sekarang
ia tersenyum ketika sadar ia memang orang terpilih
untuk keadaannya dan seharusnya
agar ia tidak menjadi sia sia saja
dan tak semuanya bisa...