Tampilkan postingan dengan label fact of fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fact of fiction. Tampilkan semua postingan

9 Jan 2011

pillow talk

























sempat shocking therapy di awal halaman
belum-belum sudah buka-bukaan, hwelehh...
tapi selanjutnya,
alur cerita membawa saya
untuk membuka lembar hitam putih
menguar ingatan di masa lalu
sepertinya tidak salah
kalau dengan lantang saya bilang,
GuWeh BangEds! :)
semakin tidak merasa bersalah
saya nyolong waktu barang sejam
keluar dari meeting hour kantor
melepas penat dengan
mencari-cari sesuatu di rak buku gramedia
suatu sore itu


...

Percayalah, ini lebih buruk dari sekadar patah hati.
Ini bukan kisah cinta yang ingin kau alami.


...




...

27 Des 2008

ma' comblang & mc' donald

“ Kenalin temen kamu yang lagi single dong Si,” kata Prama kepadaku sewaktu duduk-duduk minum di salah satu foodcourt di kotaku.
“ Waduh, siapa ya yang layak? Hahaha.. secara aku mau temanku itu dapet yang eksklusif ga sembarangan. Makanya siapa ya yang bisa tak kenalin ke kamu. Spesifikasinya apa coba?” timpalku.
“ Ahh, yang penting baik. Cantik relatif, yang gak pecicilan lah, style cewek biasanya,” jawab si Prama sambil cengengesan.

Aku iseng melihat di phone book-ku. Kali aja ada yang pas. Dan tiba-tiba aku berhenti di satu nama,Kai! Oh iya, aku masih inget kalau ga salah waktu ketemu dia terakhir kali, dia bilang minta dikenalin temanku yang satu kantor. Sip!

Aku sodorin ke Prama, “ Nih, nomor ini simpen aja, kali aja mau ngubungin anak ini. Tapi anak ini sohibku banget, kalau kamu buat mainan, kamu yang tak ewer-ewer sampe mampus”.
“ Duh segitunya, nggak Si, aku serius ni cari cewek!” Kata si Prama.


Sekian lama, ntah sudah dihubungi pa belum aku tidak tahu. Sempat aku kasih lagi nomor temanku yang kupikir cocok lah untuk si Prama. Susah-susah gampang ternyata untuk jadi mak comblang. Ngepasin si ini cocok gak sama si itu. Apalagi sama-sama teman dekat. Sampai suatu saat...

Waktu aku masih dalam perjalanan di dalam bus, hpku berbunyi, ternyata si Prama, “ ehh jadi nggak nonton Trisum-nya? Kalau ga, ada yang mau ngegantiin nih. Kamu sekarang dimana?”

“ Ya jadilah, ni aku sudah di bus perjalanan ke situ”, jawabku.
“ Oke kalau gitu, ntar bareng aku aja, trus parkir di kantor aja, lebih aman”, timpalnya
“ Yup”, sambil menutup telepon.

Malemnya konser yang diadain di salah satu Hotel itu berjalan tepat waktu. Dapat kelas biasa. Dikirain kelas biasa sama dengan kelas festival biasanya. Jadi bisa sambil goyang pikirku. Ternyata terbalik, yang di depan sendiri kelas VIP, aku di tingkat ke-2. dan ternyata semuanya duduk. Walah.. tau gitu di bela-belain beli VIP seratus lima puluh ribu. Jadi ngiri sama teman yang melambaikan tangan ke aku dari arah VIP. Tapi tetap aja, puas banget sama performance tiga gitaris yahud itu. Bujana, Tohpati, n Balawan emang mantap. Apalagi melihat Tohpati dari dekat, cute abis. Sampai gak kerasa mau habis. “Plok..plok..plok..”, itu tepukan tangan untuk lagu terakhir. Puas banget dengan performance konser Trisum kali itu. Aku dan teman-teman cepat-cepat beranjak ke pintu keluar dari pada nunggu berdesak-desakan dengan penonton lain.

“ Eh, ngomong-ngomong perutku kok bunyi, gimana kalau makan dulu?” Tanya si Prama.
“ Iya aku juga” kata Iwe yang diamini Jaja juga.

Si Dede ma Rini ga ikutan makan karena keburu pulang. aku terpaksa ikut, karena pulangnya harus barengan ma Prama, walaupun jam sudah menunjukkan pukul dua belas malem. Akhirnya kami mampir ke Mc. Donald, satu-satunya warung yang buka waktu itu. Setelah ngantri (Cuma empat ekor doang sih), aku ma tiga teman cowokku itu makan sambil ketawa-ketiwi.
Pas aku menoleh ke arah pintu, pas ada dua orang cowok cewek yang masuk. Sepintas aku cuekin, tapi saat kutoleh lagi, hampir membuatku keselek. Haa??!! Itu kan si Kai, teriakku dalam hati. Kai yang langsung ngelihat aku juga ga kalah kagetnya. Aku saat itu langsung melotot-melotot ke Prama yang duduk didepanku membelakangi arah Kai.

Sampai si Prama mengkerutkan kening, “ Kamu liat apa Si? Kok kaya habis lihat setan gitu”.

“Hei, Mbak Sisi! Ngapain tengah malem di sini?!” semprotnya.
“ Lha kamu juga ngapain? Aku habis nonton konser... Stt.. itu cowokmu ya?” kataku sambil nunjuk ke cowok yang bareng dengan Kai.
“ Yee, itu teman kuliah. Kok tadi ga ketemu? Aku juga dari sono kok. Keren ya konsernya. Dah aku antri dulu dah laper nih”, timpalnya masih sambil berjalan melaluiku

Gak sadar, tiga teman cowokku ternyata dari tadi cengengesan sambil bisik-bisik.

“ Duh, kamu punya teman cantik gitu gak dikenalin. Pelit lu”, kata di Iwe.
“ Iya nih, seksi lagi”, timpal si Jaja.
“ Huss, itu temanku kuliah dulu”, jawabku.
“ Kenalin Si!” todong si Prama. Aku langsung kedip-kedip ke Prama, tapi dia jadi bingung. Ah, repot ngomongnya, ntar kalau bilang, dua orang temanku jadi tau dong per-mak comblangan itu. Ah, ada akal. Aku langsung ngetik pesan di menu sms-hape. Isinya “ Itu si Kai tau gak sih!! Anak yang mau aku kenalin ke kamu dodol!”. Lantas aku tunjukin ke Prama. Gantian dia yang melotot tolah-toleh ke aku ma Kai. Tinggal dua orang temanku yang ngelihat aneh ke arah kami. “ Ada apa sih, kok kayaknya ada yang disembunyiin nih?” tanya Iwe. Aku dan Prama kompak ngejawab, “ Ada ajah, hehehe!”

Kata si Prama, “ Wah, yo mau aku kalo dicomblangin ma anak itu, hihihi...”
“ Duasar..”, sambil berjalan ke arah Kai mau ngelanjutin ngerumpi sebentar.
“ Eh mbak, temanmu kok cakep-cakep, kenalin dong..”, Pinta Kai.
“ Yang mana yang pengen tak kenalin?” todongku to the point.
“ Ehmm.. yang di depan kamu aja deh!” cerocosnya. Tetep aja anak ini ceplas-ceplos kaya dulu.
Haa??/! itu kan Prama. Gak salah denger nih. Kok kaya ajain banget kebetulannya. Aku senyum-senyum.
“ Apaan sih kamu mbak, senyam-senyum gak jelas!” omel si Kai yang kusambut, “ hehehe... ga papa. Aku duluan ya dah malem” sambil cipika cipiki dulu.

Besoknya, si Prama menghampiri aku, sambil berseri-seri gitu wajahnya. “ Eh, udah aku sms anaknya. Dia belum sadar kalau yang sms ini yang ketemu dia tadi malam, hehehe” kata si Prama.

“ sms melulu? Kecutt.. di samperin po’o kalo emang niat”, semprotku ma dia. Wah gerak cepat nih si Prama.
Beberapa hari kemudian, ga disangka si Prama sms kalau dia mau ketemuan ma si Kai di rumahnya. Wah, secepat itu? Tapi baguslah, kelihatan niatnya. Iseng aku kasih tips sama si Prama gini, “ Ehh, kamu pake kacamata jangan lupa. Soalnya, menurutku kamu itu lebih manis pakai kacamata”. Hahaha, padahal emang akunya aja yang suka lihat cowok pake kacamata, tapi bukan yang kayak pantat botol lho. Nggak taunya, sore hari, Prama mampir ke rumah.

“ ehh, kamu dari mana? Katanya mau ke Kai?” tanyaku.
“ iya, sttt.. jangan diketawain ya. Aku dari kantor, kacamataku ketinggalan di kantor. Hehehe, iya ini ntar mau ke Kai”, jawabnya.
Bwahahaha... aku tertawa terbahak-bahak. Nurut juga si Prama, sampai mau Kai bela-belain ambil kacamata dulu ke kantor.

Selanjutnya, ga tau gimana prosesnya, akhirnya Kai dan Prama runtang-runtung kemana-mana. Jadi seperti amplop ma perangko. Malah kadang aku dijemput buat kencan bareng. Ada rasa senang dan bangga yang terselip di hatiku ngelihat mereka jadi lengket begitu. Pintar juga gue jadi mak comblang, kapan-kapan bisa nih buka biro jodoh.


Malah Rama, temanku satu kantor yang ngerti ceritanya si Kai dan Prama malah ikut-ikutan nodong, “ Aku dong Si, kenalin temanmu juga”. Haa.. sapa lagi, sudah kehabisan stok nih. Iseng aku tunjukin seseorang lewat friendster, nggak aku kenal, tapi sempat ada “something” ma aku, cuma mau ngetes doang, eee.. si Rama malah ngomel-ngomel, “ ehh, yang bener aja kamu. Nggak-nggak... Udah keliatan beraninya ma cowok gitu, berangasan. Hii.. Atuuutt” sambil melenggang pergi. Lho..lho..




“ Ini cerita dengan nama samaran semua, tapi kisahnya nyata sekali J. Apapun yang terjadi pada kalian, dua sahabatku, aku senang bisa memberi cerita lain di kehidupan kalian. Stt.. Kai.. ada yang belum tahu lho kalau peristiwa kuncinya ada di konser Trisum n Mc.Donald, hihihi... semoga aja tidak marah, dia khan orang yang paling-Arif”

30 Nov 2008

Tentang Arsam

Tata bercerita tentang Arsam. Tentang pertemuannya yang biasa-biasa saja pada awalnya. Seperti alur hidup di keseharian. Sama-sama bertemu sebagai orang yang baru. Baru bertemu, baru berkenalan, baru bercengkrama. Perjalanan yang kemudian membuat cerita di tengah jalan. Ada sesuatu pada Tata. Yang sebelumnya tak pernah terduga, terlintas. Yang membawanya pada kegusaran.

Karena kenyataannya tak mudah. Tak mudah ketika di tengah jalan ia menemukan rasa yang berbeda ketika dia memandang Arsam. Ada yang menjalar liar di hatinya. Jika tak ada Nara bisa saja ia menjerumuskan rasa itu menjadi semakin menjadi. “Oughh...”, itulah lenguh Tata ketika sudah bergelut dengan rasa itu. Ia pun kadang terpekur sambil meresapi keheranan yang berkecamuk, mengapa semudah itu rasa itu datang, padahal kenyataan yang harus dihadapi tidak mudah. Pada titik klimaks, terkadang Tata ingin berteriak “ Berhenti!!” untuk menyudahi semua pergulatan itu. Karena senyum Nara yang sejuk membuatnya menangisi rasa bersalah yang semakin merajamnya ke dalam perasaan bersalah.

“Sudahlah, mungkin ini hanyalah sementara, seperti kamu mengagumi seseorang. Mungkin akan pudar seiring berjalannya waktu. Jangan pernah sekalipun kamu mencoba berpaling dari Naramu, karena bisa membuatmu menyesal seumur hidup. Ingat-ingat katamu sendiri bahwa apa yang kamu cari semuanya ada di Nara”, itu tutur Tio sahabatnya menimpali luapan curahan dari Tata. Tata sudah paham sekali jika Tio akan bertutur seperti itu, karena memang idealnya seperti itu. Tapi yang ia cari adalah penyumbat rasa. Agar Arsam tak selalu menari-nari di mimpinya. Arsam memang tak pintar menari, namun selalu membuat Tata ingin menari riang jika sedang bersama Arsam.

Tak ada yang spesial mungkin buat Arsam, waktu-waktu yang dilewati bersama Tata. Sama seperti waktu yang terbuang bersama teman sepermainannya yang lain. Mungkin ia tidak menyadari sunggingan di sudut bibir Tata ketika sedang menghabiskan waktu, walau itu hanya jalan-jalan di sudut kota, walau itu hanya waktu yang dihabiskan di sudut meja dengan semangkuk soto ayam sambil bercerita tentang banyak hal.. Unbelieveable menurut Tata menamai rasa yang berkecamuk di saat-saat ia bisa terbahak-bahak berbagi cerita konyol dengan Arsam. Dan saat itu, Tata selalu bermimpi sosok yang dihadapannya itu memiliki rasa yang sama. Tapi.. mungkin tidak.

Nara tak pernah terbuang sedetik pun dari hati Tata. Tak terpungkiri jika saat itu pun tak ada yang ingin Tata rubah tentang Nara. Nara tetap sebagian dari diri Tata, belahan jiwanya. Namun ada sesuatu yang tiba-tiba menghilang. Letupan-letupan itu. Menghambar. Tak ia rasakan lonjakan adrenalin seperti ketika Arsam tersenyum di depan pintu menjempunya. Tak ada degupan yang sama seperti ketika nama Arsam keluar di layar telepon genggamnya, walau isinya hanya, “ hi, ngapain”, dan Tata begitu senangnya berbalas pesan singkat hingga larut, walaupun itu hanya saling meledek. Hingga kemudian Tata lelap dalam mimpinya mengharapkan Arsam memiliki rasa yang sama. Sebelumnya Tata tak lupa mengirim pesan singkat pada Naranya, “ met bobo Nara, i luv you”...

Dikesehariannya, ia juga tak pernah lepas dari sosok Arsam. Itulah Tata, hanya bisa memandangi Arsam dari jauh. Sambil tak lupa sesuatu menari-nari di benaknya, seandainya...seandainya...

Saat hari ulang tahun Arsam ia ingin memberi kejutan yang sangat tak terduga. Ia ingin ungkapkan perasaannya lewat sekotak tart. Karena ia tahu Arsam tukang makan. Tata sudah tak kuat lagi memendam semuanya tanpa Arsam tahu. Tata hampir tak kuat. Tapi kembali logikanya bermain, berbentuk ketakutan kehilangan Arsam jika Arsam tahu kenyataanya. Lagipula ia tahu Arsam bukan orang yang terlalu suka dengan kejutan. Arsam sosok yang ahh.. sulit dideskripsikan. Arsam terlalu sederhana, terlalu biasa memandang apa saja. Tapi itulah yang membuat Tata takluk. Ahh.. memang kenyataanya yang tak mudah.

Nara pun bukannya tak mengerti. Ketika Tata berubah terbengong-bengong ketika diajak bercerita. Menatap kosong mata Nara, melompong. Tata pun susah untuk tertawa lepas menimpali kekonyolan Nara. Namun apakah Tata harus jujur ketika Nara menanyakan tingkahnya yang mulai aneh. Tidaklah mudah. Tata pun tak sanggup kehilangan sosok Nara yang tidak ada cela menurutnya.

Tata tersenyum. Tata mendengarkan dengan sepenuh hati ketika Arsam bercerita. Bercerita tentang seseorang yang Tata kira berarti untuk Arsam. Tata sedikit bermimpi bahwa orang itu dirinya. Ternyata bukan. Tata menangkap binar di mata Arsam ketika lelaki itu bercerita tentang seseorang. Walaupun dari gaya cerita Arsam yang hati-hati, susah untuk menunjukkan bahwa ia sedang-akan jatuh cinta, Tata bisa mengerti bahwa seorang wanita itu sangat mencuri hati Arsam, dan tersadar... dia bukan siapa-siapa, hanya seorang sahabat mungkin. Arsam telah tercuri dari mimpinya.

Tata tahu, apa kemudian yang harus ia pilih. Tata memilih jalan lurus yang memang sedang ia lalui bersama Nara. Jika pun ia memaksa berbelok ke jalan terjal untuk mengejar Arsam, ia tak melihat ujung di sana. Bukan ia tak berani bermimpi, bukan ia tak berani mengikuti kata hatinya. Memang kata hatinya saat itu ingin mengejar Arsam. Namun Tata sadar, hidup lebih pada pilihan. Hingga detik itu pun Tata tak berani kehilangan keduanya. Dan ia memilih tak ingin kehilangan keduanya. Nara tetaplah sosok tak tergantikan. Dan tak mudah untuk Tata menggantikan sosok Nara dengan yang lain. Tata tetap tak ingin kehilangan Arsam. Hanya perlu waktu untuk Tata untuk menyadari rasa yang ia pendam untuk Arsam, meresapinya. Tata berjuang untuk mengambil langkah bijak, memelihara cintanya pada Arsam sebagai seorang sahabat. Dengan cinta itu, ia sama sekali tak pernah merasa kehilangan Arsam. Tata merasakan keindahan lain, begitu mencintanya... semua terasa indah. Melihat Arsam tersenyum bercerita tentang cintanya, melihat Arsam bercengkrama dengan Nara laiknya seorangan teman akrab, melihat Arsam tetap memperhatikannya, sungguh indah. Tata rasa benar, ia tak kehilangan apapun, karena dia sudah meletakkan cintanya pada tempatnya, bukan merusaknya...



Dedicated for
all my best friend...