12 Apr 2009

Destiny

berjalan di pinggiran jalan
sembari menendangi kerikil kecil yang terserak
senyum tak lupa menggantung serasa ada yang lepas
bebas dari segala pikiran yang menggelantungi
yang terpikir hanya berjalan ke depan
dengan tangan melambai bebas

penat, kembali ke dalam petak kamar
merebahkan diri di hamparan busa yang empuk
sembari meraih edisi bulanan yang selalu tak pernah absen di comot dari loper
tersenyum sambil meraih remote
terputarlah lagu jazz lirih2
kembali pulas dalam hitungan menit
kembali seorang diri

terbangun,
hasrat untuk sekedar melepas waktu yang harus terbuang kembali
namun nada panggil di telepon genggam tak jua berganti suara yang di maksud
beberapa kali
huffhh, saat ingin ramai, kembali ia kebingungan dalam sepi
sudah capai ia lampiaskan sepi diatas keyboard mencari teman maya
melenggang sendirian menghabiskan lembar rupiah di dompet sudah puluhan kali ia lakukan
yang ia dapat hanya kresek berisi barang-barang belacu

terpekur ia
tak ada beban memang
semua untuk hidupnya
semua ada seperti tangan doraemon yang merogoh saku
menyulap semua menjadi miliknya
dia bisa untuk dirinya sendiri
tapi haruskah selalu begini
titik nyaman yang tak ubahnya titik nol

ia ingat selentingan suara dan kata-kata di selembar kertas di pojokan musholla
bukankah hidup itu untuk berbagi
bukankah hidup itu untuk memberi
jika yang terbenak hanya dirinya sendiri
berarti ia akan tetap tak beranjak di tempat

ia terbangun,
mimpi menjelang pagi membuatnya sadar
inilah adanya sekarang
ia tersenyum ketika sadar ia memang orang terpilih
untuk keadaannya dan seharusnya
agar ia tidak menjadi sia sia saja
dan tak semuanya bisa...

2 comment:

quinie mengatakan...

berbagi ga membuat kita jatuh miskin :)

Emee mengatakan...

hidupku di takdirkan tidak untuk diriku sendiri
esspecially for my family..
hidup berjuang mati kemudian (horor yang kedengerannya)

Posting Komentar