16 Mar 2009

tiba - tiba

Seketika terasa darah tersirap naik ke kepala
Ketika tiba-tiba muncul siluet wajah itu
Yang masih jelas sekian tahun yang lalu

Ingatan bergerak mundur
Tentang sesuatu di belakang semua yang telah berubah
Tanpa ada yang perlu disesali
Walau ada yang terlewatkan
Seperti kata yang tak sempat terkatakan
Tak ubahnya ombak yang tak pernah bisa menggenangi gunung pasir yang
berkilau di tepian
Dia memang tak akan pernah tahu
Karena tak mungkin bisa menggantikan apa yang dia genggam sekarang


Seperti ada yang berdesir di dalam saat menatap senyum itu
Tidak ada yang berubah dan tersesalkan
Yang berjalan hanyalah waktu
Dan yang berubah itu adalah hidup
Lantas untuk apa meratap
Jika senyum dapat merangkum semuanya dengan indah?


...

6 Mar 2009

Karnaval Baliho

Baliho itu ada tulisan kecil di bagian bawahnya,

“nek gak seneng partaine, wis milih wong-e ae, insyaallah amanah “

terjemahan-e,
“ kalau tidak suka partainya, ya memilih orangnya saja, insyaallah amanah”


Ah, ini kampanye plus berkelalakar? Saya nggremeng dalam hati,

“ lho alah mbakyu, milih partaine ae wis bingung keakean, opomaneh milih wong e sing nyalon caleg sing akeh e sak ndayak kerat. Lha kok arep nyubles sampeyan sing ora kenal blas, lha kok NYIMUT… “

terjemahan-e,
“ lho alah mbak, memilih partainya aja sudah bingung karena kebanyakan, apalagi milih orang yang menyalonkan diri jadi caleg yang banyaknya aujubile. Lha kok mau nyoblos anda yang tidak kenal sama sekali, lha kok enak banget anda”


Itu salah satu baliho dari sekian baliho yang berjajar sambung menyambung di pinggir jalan. Dengan slogan bermacam- macam, dan beberapa terkesan menggelikan selain yang saya tulis di atas. Ck..ck..ck.. kaya-kaya mereka itu, membayar perijinan ber umbul-umbul atau pamphlet bahkan baliho aja berapa? Malah ada yang menggunakan space iklan yang permanen seperti iklan rokok yang segedhe gaban dengan iklan “ Jauhi Mo Limo “ . Kalau orang madura jadi “ Pajeu bi’ Mak Lemak “…


Sebagai orang awam, yang terlintas di otak saya hanya beberapa hal …

Caleg dengan slogan yang saya sebut di atas menunjukkan kurang selarasnya korelasi partai dengan orang di dalamnya. Seharusnya jika kita memilih partai yang sesuai dengan aspirasi kita, maka akan terwakili oleh orang-orang di dalamnya. Memilih menurutnya adalah senang tidak senang bukan sesuai atau tidak dengan aspirasi dan ideology kita. Lantas, orang seperti Bu Fenny Ekawati, SP itukah yang akan kita pilih? Kalau saya, tentu tidak, hehehe…


Pembelajaran demokrasi di negara ini belum tuntas, tapi rakyat sudah di cekoki duluan. Analognya, rakyat kita itu makannya masih tiwul tapi di paksa makan lasagne, escargot, hotdog. Masih belajar memilih partai yang puluhan banyak, sekarang sudah di tambah memilih orang-orang terkenal musiman begitu. Peralihan atau pembelajaran dari satu bab ke bab yang lain tidak diberi jembatan yang kokoh, jadi kalaupun pemilu sukses, bisa jadi hasilnya adalah kumpulan suara-suara “ mengambang”. Daripada golput gak enak, milih aja. Mau milih siapa? Tidak kenal semua. Akhirnya kebanyakan orang ambil jalan pintas nyoblos orang yang bolak-balik balihonya terlihat di ujung kampong, atau tetangganya sendiri, hitung-hitung solidaritas. Apalagi orang –orang buta huruf dan berpendidikan rendah, mereka pasti menjadi makanan empuk yang potensial menjadi suara mengambang. Sampai di tempat pemilihan suara, mereka akan bingung dengan banyaknya partai, apalagi banyak wajah pula, akhirnya kemungkinan besar mereka akan mencoblos orang yang wajahnya pernah mereka lihat atau yang di suruh kyai mereka.


Jika ini pembelajaran, yang model bagaimana. Pembelajaran “ choose from the cover? Mengerti luarnya saja dari tampang yang tiba-tiba ngoyo untuk ber-fotogenik, hanya dengan satu slogan saja, sudah bisa sebagai pertimbangan untuk memilih caleg? Apa pepatah “ don’t judge from the cover” harus di abaikan sementara?


Tapi bagaimanapun sebagai orang yang berpendidikan, saya harus menyikapi dengan positif setiap perubahan yang ada. Bagaimanapun perubahan itulah yang abadi. Masalahnya tidak ada media yang akurat untuk melakukan fit and proper test dari sudut pandang pemilih. Saya ingin melihat kapasitas mereka paling tidak pemikiran mereka yang bisa dituangkan dalam tulisan, minimal dalam blog, tapi mungkin hanya ada satu dua dari ratusan caleg itu. Hmmh… jadi gimana dong? Kalau saya sampai hari h-nya belum bisa menentukan pilihan, mencoblos partainya saja kah? Berarti saya harus merelakan orang-orang yang aji mumpung bisa jadi caleg dong. Walau melelahkan, semoga ada jalan untuk mempelajari orang-orang itu, karena saya masih peduli dengan negara ini. Mari kita mulai dari diri sendiri untuk melakukan perubahan kecil dahulu.


Yuuk… mari.