30 Nov 2008

Tentang Arsam

Tata bercerita tentang Arsam. Tentang pertemuannya yang biasa-biasa saja pada awalnya. Seperti alur hidup di keseharian. Sama-sama bertemu sebagai orang yang baru. Baru bertemu, baru berkenalan, baru bercengkrama. Perjalanan yang kemudian membuat cerita di tengah jalan. Ada sesuatu pada Tata. Yang sebelumnya tak pernah terduga, terlintas. Yang membawanya pada kegusaran.

Karena kenyataannya tak mudah. Tak mudah ketika di tengah jalan ia menemukan rasa yang berbeda ketika dia memandang Arsam. Ada yang menjalar liar di hatinya. Jika tak ada Nara bisa saja ia menjerumuskan rasa itu menjadi semakin menjadi. “Oughh...”, itulah lenguh Tata ketika sudah bergelut dengan rasa itu. Ia pun kadang terpekur sambil meresapi keheranan yang berkecamuk, mengapa semudah itu rasa itu datang, padahal kenyataan yang harus dihadapi tidak mudah. Pada titik klimaks, terkadang Tata ingin berteriak “ Berhenti!!” untuk menyudahi semua pergulatan itu. Karena senyum Nara yang sejuk membuatnya menangisi rasa bersalah yang semakin merajamnya ke dalam perasaan bersalah.

“Sudahlah, mungkin ini hanyalah sementara, seperti kamu mengagumi seseorang. Mungkin akan pudar seiring berjalannya waktu. Jangan pernah sekalipun kamu mencoba berpaling dari Naramu, karena bisa membuatmu menyesal seumur hidup. Ingat-ingat katamu sendiri bahwa apa yang kamu cari semuanya ada di Nara”, itu tutur Tio sahabatnya menimpali luapan curahan dari Tata. Tata sudah paham sekali jika Tio akan bertutur seperti itu, karena memang idealnya seperti itu. Tapi yang ia cari adalah penyumbat rasa. Agar Arsam tak selalu menari-nari di mimpinya. Arsam memang tak pintar menari, namun selalu membuat Tata ingin menari riang jika sedang bersama Arsam.

Tak ada yang spesial mungkin buat Arsam, waktu-waktu yang dilewati bersama Tata. Sama seperti waktu yang terbuang bersama teman sepermainannya yang lain. Mungkin ia tidak menyadari sunggingan di sudut bibir Tata ketika sedang menghabiskan waktu, walau itu hanya jalan-jalan di sudut kota, walau itu hanya waktu yang dihabiskan di sudut meja dengan semangkuk soto ayam sambil bercerita tentang banyak hal.. Unbelieveable menurut Tata menamai rasa yang berkecamuk di saat-saat ia bisa terbahak-bahak berbagi cerita konyol dengan Arsam. Dan saat itu, Tata selalu bermimpi sosok yang dihadapannya itu memiliki rasa yang sama. Tapi.. mungkin tidak.

Nara tak pernah terbuang sedetik pun dari hati Tata. Tak terpungkiri jika saat itu pun tak ada yang ingin Tata rubah tentang Nara. Nara tetap sebagian dari diri Tata, belahan jiwanya. Namun ada sesuatu yang tiba-tiba menghilang. Letupan-letupan itu. Menghambar. Tak ia rasakan lonjakan adrenalin seperti ketika Arsam tersenyum di depan pintu menjempunya. Tak ada degupan yang sama seperti ketika nama Arsam keluar di layar telepon genggamnya, walau isinya hanya, “ hi, ngapain”, dan Tata begitu senangnya berbalas pesan singkat hingga larut, walaupun itu hanya saling meledek. Hingga kemudian Tata lelap dalam mimpinya mengharapkan Arsam memiliki rasa yang sama. Sebelumnya Tata tak lupa mengirim pesan singkat pada Naranya, “ met bobo Nara, i luv you”...

Dikesehariannya, ia juga tak pernah lepas dari sosok Arsam. Itulah Tata, hanya bisa memandangi Arsam dari jauh. Sambil tak lupa sesuatu menari-nari di benaknya, seandainya...seandainya...

Saat hari ulang tahun Arsam ia ingin memberi kejutan yang sangat tak terduga. Ia ingin ungkapkan perasaannya lewat sekotak tart. Karena ia tahu Arsam tukang makan. Tata sudah tak kuat lagi memendam semuanya tanpa Arsam tahu. Tata hampir tak kuat. Tapi kembali logikanya bermain, berbentuk ketakutan kehilangan Arsam jika Arsam tahu kenyataanya. Lagipula ia tahu Arsam bukan orang yang terlalu suka dengan kejutan. Arsam sosok yang ahh.. sulit dideskripsikan. Arsam terlalu sederhana, terlalu biasa memandang apa saja. Tapi itulah yang membuat Tata takluk. Ahh.. memang kenyataanya yang tak mudah.

Nara pun bukannya tak mengerti. Ketika Tata berubah terbengong-bengong ketika diajak bercerita. Menatap kosong mata Nara, melompong. Tata pun susah untuk tertawa lepas menimpali kekonyolan Nara. Namun apakah Tata harus jujur ketika Nara menanyakan tingkahnya yang mulai aneh. Tidaklah mudah. Tata pun tak sanggup kehilangan sosok Nara yang tidak ada cela menurutnya.

Tata tersenyum. Tata mendengarkan dengan sepenuh hati ketika Arsam bercerita. Bercerita tentang seseorang yang Tata kira berarti untuk Arsam. Tata sedikit bermimpi bahwa orang itu dirinya. Ternyata bukan. Tata menangkap binar di mata Arsam ketika lelaki itu bercerita tentang seseorang. Walaupun dari gaya cerita Arsam yang hati-hati, susah untuk menunjukkan bahwa ia sedang-akan jatuh cinta, Tata bisa mengerti bahwa seorang wanita itu sangat mencuri hati Arsam, dan tersadar... dia bukan siapa-siapa, hanya seorang sahabat mungkin. Arsam telah tercuri dari mimpinya.

Tata tahu, apa kemudian yang harus ia pilih. Tata memilih jalan lurus yang memang sedang ia lalui bersama Nara. Jika pun ia memaksa berbelok ke jalan terjal untuk mengejar Arsam, ia tak melihat ujung di sana. Bukan ia tak berani bermimpi, bukan ia tak berani mengikuti kata hatinya. Memang kata hatinya saat itu ingin mengejar Arsam. Namun Tata sadar, hidup lebih pada pilihan. Hingga detik itu pun Tata tak berani kehilangan keduanya. Dan ia memilih tak ingin kehilangan keduanya. Nara tetaplah sosok tak tergantikan. Dan tak mudah untuk Tata menggantikan sosok Nara dengan yang lain. Tata tetap tak ingin kehilangan Arsam. Hanya perlu waktu untuk Tata untuk menyadari rasa yang ia pendam untuk Arsam, meresapinya. Tata berjuang untuk mengambil langkah bijak, memelihara cintanya pada Arsam sebagai seorang sahabat. Dengan cinta itu, ia sama sekali tak pernah merasa kehilangan Arsam. Tata merasakan keindahan lain, begitu mencintanya... semua terasa indah. Melihat Arsam tersenyum bercerita tentang cintanya, melihat Arsam bercengkrama dengan Nara laiknya seorangan teman akrab, melihat Arsam tetap memperhatikannya, sungguh indah. Tata rasa benar, ia tak kehilangan apapun, karena dia sudah meletakkan cintanya pada tempatnya, bukan merusaknya...



Dedicated for
all my best friend...

23 Nov 2008

balada para sahabat


Suatu sore seorang sahabat sehabis nganterin sampai depan rumah, jadi bengong sendiri gak pulang-pulang. Ditanyain, pandangannya jadi melompong. Sekian menit berikutnya akhirnya keluar suaranya, lirih ( bikin merinding, karena gak biasa-biasany), “ Aku kasian ma Indi, gara-gara aku jadi begitu..”. What happen Mang? “Dia jadi gak karuan sekarang, ternyata dia menunggu aku, aku jadi kaget tau kenyatannya gitu”, sambung si sahabat itu. Ow..ow.. cerita klise nih.. Cowok cewek sahabatan, dan lambat, bahkan cepat si cewek akhirnya jatuh hati sama si cowok, atau sebaliknya. Kalau bertepuk tangan semua (horee.. jadi rame) perasaannya sih malah jadi mula cerita cinta baru. Kalau gak?? Wahh jadi dua cabang kisah, kisah sahabatnya jadi ancur pecah kacau balau. Atau fine-fine aja, seperti sedia kala.

Memang susah sih, dan persahabatan itu memang muahal harganya. Harus dibayar loyalitas penuh sebagai sahabat, kalau tidak harus dibayar percekcokan, dibayar perpisahan. Mau pilih yang mana, itu terkadang tidak bisa dipungkiri ada campur tangan jalan hidup masing-masing. Gak percaya? Hati-hati lho, ngalamin sendiri.

Semua orang mungkin punya cerita versi sendiri-sendiri tentang lika liku persahabatan. Dan sedih ataupun gembira saya pikir itu adalah absolutely the real friendship.

Ahh.. sahabat, persahabatan... hmmh bikin aku senyum, mengkerutkan kening, tepatnya kunamai Lika Liku 1001 Sahabat. Tidak sampai 1001 sahabat sih, tapi saya termasuk orang yang susah untuk tidak punya sahabat, itu terhitung sejak jaman es-de dahulu kala.

Dengan sahabat lelakiku, sudah berapa kali ya, aku pernah perang dingin bertahun-tahun, gara-gara dia mencoreng persahabatan dengan sepucuk surat cinta, dengan rasa lain selain arti sahabat. Wahh, benci, marah, gondok, waktu itu, apalagi waktu itu ABG emosi masih meledak-ledak (sampai sekarang? Masih lah, tetap The Burning Meme).

Dengan sahabat, aku mungkin pernah di cap “pengkhianat” walaupun kenyataannya tidak sepenuhnya betul. Karena jika dia tahu, aku sudah berjuang untuknya sekian lama, jika toh kemudian aku yang terperosok sendiri, who knows?? Dan itupun terjadi karena aku melihat sudah tidak ada celah untuknya.

Dengan sahabat, aku pernah terhenyak merasa “dikhianati”. Apa lantas aku membatu kepadanya. Oh tentu tidak. Walaupun aku sakit hati, tumpah ruah berdarah-darah (ciee.. heboh banget ceritanya) aku masih punya sisi terang untuk mengarifinya. Walau butuh waktu, bukan aku dong kalau kemudian tidak bisa membuat semuanya kembali baik-baik saja. Ahh.. itu kan bagian dari hidup yang harus dijalani, forgiven..forgoten..

Dengan sahabat, aku ketinggalan kereta. Wahh, ini berapa kali ya. Target cowok keduluan sahabat. Yaa karena sifat aku kali ya tukang mendem perasaan kalau naksir cowok. Itu sih jaman ABG duluuu banget. Hehehe... tapi sahabatan jalan terus dong, kan hilang satu tumbuh seribu, walau sempat termenye-menye dulu.

Dengan sahabat, aku sempat perang batin. Haa?? Ini kebiasaan cewek nih, gak bisaan sama sahabat cowok yang baik, akhirnya jatuh hati. Wuu.. rasanya menahan rasa untuk membuat persahabatan tidak tercoreng dan utuh, sempat membuatku termenye-menye berbulan-bulan. Akhirnya gimana? We are still a goodfriend till now! Malah kupikir lebih indah, daripada aku dulunya gak pakai otak merusak semuanya. Alhamdulillahh..

Dengan sahabat, aku kawiiinnn!!! Hahaha... inilah sahabat sejatiku, the real soulmate, my lovely husband. Hahaha... akhirnya dari sekian banyak cerita persahabatanku, dari a sampai z aku kena batunya. Dulunya, bilang gak bakalan deh jadian ma anak ini, sekarang... nyiapin bontotannya ke kantor. Cerita persahabatan paling komplit, paling hebohh... gimana ceritanya?? KEEP WAITING, COMING SOON!!

Pahit manis...
Sedih senang...
It’a all about friendship
Kadang kita bisa milih
Tapi kadang kita tidak kuasa
Let it flow aja deh, dengan sedikit usaha, dengan sedikit logika
Pasti kita akan temui alur kita dimana
(Apaan? Tau ah.. kok jadi ngelantur gak karuan)